Kemenangan Italia Bermula Dari Ditariknya Baju Bukayo Saka Oleh Chiellini

Bek Top!' - Jose Mourinho Puji Aksi Giorgio Chiellini Tarik Baju Bukayo  Saka | Goal.com

Final Euro 2020 kemarin menyisakan sejumlah cerita menarik. Salah satunya adalah momen Giorgio Chiellini menjatuhkan Buyako Saka di akhir waktu normal. Saat itu Saka kelihatan berhasil melewati Chiellini di sisi kiri pertahanan Italia. Tapi, Chiellini tidak membiarkannya lewat begitu saja. Dia kalah berlari, tapi tangannya masih bisa menarik kerah jersey Saka dan menjatuhkan winger muda Inggris itu. Jelas pelanggaran, Chiellini menerima kartu kuning.

Sekilas pelanggaran ini kelihatan ceroboh, terlebih karena Chiellini memang kalah langkah. Tapi, malah momen inilah yang jadi awal Italia jadi juara. Momen pelanggaran Chiellini terhadap Saka itu juga diperhatikan oleh Jose Mourinho. Menurut Mou, saat Chiellini menarik jatuh Saka, saat itulah terbukti betapa tangguhnya kualitas pertahanan Italia.

“Apa yang dilakukan Chiellini terhadap Saka membuktikan segalanya,” kata Mourinho.

“Dia membuat satu-satunya kesalahan dalam pertandingan, dia kalah dalam putar balik, Saka siap berlari, tapi Chiellini berkata: ‘Anda tidak boleh berlari, tetap bersama saya, jersey ini milik saya dan Anda tidak bisa berlari’.”

“Dia tahu betul apa yang dia lakukan. Ini adalah permainan bek level top dan permain yang sangat cerdas,” katanya.

Mourinho sudah pernah memuji kualitas Chiellini dan Bonucci sebagai pasangan bek tengah luar biasa. Dua pemain ini mungkin tidak lagi muda, tapi saat dibutuhkan tim, mereka tahu caranya menjaga pertahanan.

“Saya pernah melawan Juventus saat masih melatih Manchester United beberapa tahun lalu. Setelah pertandingan di Old Trafford, saya berkata: ‘Dua pemain ini seharusnya pergi ke University of Sports dan memberi kuliah soal bagaimana cara jadi bek tengah,” kata Mourinho.

“Sekarang, beberapa tahun setelahnya, mereka berdua masih bisa melakukan itu. Mungkin Chiellini tidak bisa terus-menerus melakukannya, terkadang dia butuh istirahat. Tapi, dia siap saat dibutuhkan di level tertinggi,” katanya.

Italia Didukung Seluruh Negara Eropa Kalahkan Inggris Karena Brexit

Italia tidak harus berkecil hati walau mereka akan memainkan partai final Euro 2020 di Wembley, London yang notabene merupakan kandang sang lawan, Inggris. Pasalnya, Italia bisa jadi mendapat dukungan dari seluruh Eropa untuk bisa mempermalukan Inggris di London dalam partai final yang akan diadakan pada Senin (12/7/2021) dini hari WIB itu.

Banyak faktor yang membuat Italia banjir dukungan pada partai final kali ini, mulai dari persoalan Brexit sampai keputusan UEFA memilih London sebagai venue. Dukungan untuk Italia dari seluruh benua biru tercermin dari pernyataan Presiden Uni Eropa, Ursula von der Leyen. Bisa jadi ini adalah dampak dari keputusan Inggris yang memilih keluar dari Uni Eropa.

“Hatinya bersama Squadra Azzurra, jadi dia akan mendukung Italia pada Minggu,” kata juru bicara Eric Mamer seperti dikutip Football Italia.

Hal yang sama juga dilakukan Presiden Dewan Eropa, Charles Michel yang berasal dari Belgia. Juru bicara Michel, Barend Leyts memastikan kalau Michel akan mendukung Italia di final Euro 2020.

Sementara itu, faktor lainnya yang membuat Italia banyak mendapat dukungan adalah keputusan UEFA untuk mengadakan partai final di London. Keputusan ini sangat dipertanyakan mengingat kasus angka penularan Covid-19 di Inggris masih cukup tinggi. Risiko yang bisa disebabkan pertandingan ini pun cukup besar.

Bahkan, sejumlah pihak di Uni Eropa sempat mendesak UEFA untuk memindah venue final Euro 2020 dari London ke Munchen atau Roma, di mana situasinya lebih bisa dikontrol.

Euro 2020 Grup A: Ganasnya Timnas Italia Calon Juara Euro 2020

Tidak seperti Belgia, Inggris, atau Prancis, juara dunia empat kali Timnas Italia mungkin bukan favorit utama pada Euro 2020. Hanya saja, mereka sedang dalam 26 pertandingan tidak terkalahkan, sejak 2018 silam, rekor terpanjang kedua dalam sejarah tim, hanya tertinggal 30 pertandingan dari 1935 sampai 1939 di bawah Vittorio Pozzo.

Dalam tiga tahun, Azzurri sudah berubah dari gagal lolos ke Piala Dunia menjadi perjalanan sempurna untuk Piala Eropa 2020. Ini adalah transformasi yang datang lebih cepat dari yang diharapkan di bawah pelatih Roberto Mancini, yang sudah menemukan perpaduan yang tepat dari pemain muda dan veteran untuk menciptakan optimisme di sekitar tim yang telah kehilangan semua kepercayaan diri mereka.

Mereka harus berada di puncak grup. Satu-satunya gelar Kejuaraan Eropa Italia datang pada tahun 1968. Dan Mancini yakin Italia dapat mengincar gelar itu, yang akan memberikan kelegaan bagi salah satu negara yang paling terpukul oleh pandemi virus corona.

“Kami ingin memberikan alasan bagi seluruh bangsa untuk merayakannya,” kata Mancini.

“Terutama mengingat apa yang sudah kami lalui selama satu setengah tahun terakhir.”

Kalau Italia memenangkan Grup A Euro 2020, mereka akan menghadapi runner-up dari Grup C, berisi Belanda, Ukraina, Austria, dan Makedonia Utara. Sementara penyerang tengah bergantian Ciro Immobile dan Andrea Belotti seharusnya menjaga skor, kekuatan Italia adalah kelompok besar sayap dan gelandang mereka yang kecil namun sangat efektif.

Ciro Immobile membukukan 20 gol di Serie A 2020/2021 setelah memenangkan Sepatu Emas Eropa pada 2019/2020 sebagai pencetak gol terbanyak di semua klub sepak bola Eropa dengan 36 gol. Walaupun utamanya adalah seorang striker, Immobile dapat ditempatkan di mana saja di lini depan, dan dikenal karena pekerjaannya yang tidak menguasai bola untuk masuk ke posisi mencetak gol yang berbahaya, serta kemampuan penyelesaiannya di depan gawang.

Pemain sayap kiri Lorenzo Insigne dianggap sebagai pemain paling berbakat Italia dan kurangnya penggunaan selama kampanye kualifikasi yang gagal untuk Piala Dunia 2018, terutama saat dia dicadangkan selama kekalahan play-off dari Swedia – membuat penggemar kesal tanpa akhir.

Di sayap lain, ada Federico Chiesa, putra mantan striker Italia Enrico Chiesa, sementara Federico Bernardeschi tetap menjadi opsi kuat lainnya di lini serang.

Di lini tengah ada Nicolo Barella, Jorginho, Manuel Locatelli, Lorenzo Pellegrini dan Matteo Pessina, ditambah Marco Verratti dan Stefano Sensi, cedera memungkinkan. Menariknya, mayoritas gelandang memiliki tinggi badan kurang dari 175cm.

Daftar Pemain

Kiper: Gianluigi Donnarumma (AC Milan), Alex Meret (Napoli), Salvatore Sirigu (Torino)

Bek: Francesco Acerbi (Lazio), Alessandro Bastoni (Inter Milan), Leonardo Bonucci (Juventus), Giorgio Chiellini (Juventus), Giovanni Di Lorenzo (Napoli), Emerson (Chelsea), Alessandro Florenzi (Paris Saint-Germain), Leonardo Spinazzola (Roma), Rafael Toloi (Atalanta)

Gelandang: Nicolo Barella (Inter Milan), Bryan Cristante (Roma), Jorginho (Chelsea), Manuel Locatelli (Sassuolo), Lorenzo Pellegrini (Roma), Stefano Sensi (Inter Milan), Marco Verratti (Paris Saint-Germain)

Penyerang: Andrea Belotti (Torino), Domenico Berardi (Sassuolo), Federico Bernardeschi (Juventus), Federico Chiesa (Juventus), Ciro Immobile (Lazio), Lorenzo Insigne (Napoli), Giacomo Raspadori (Sassuolo)